TENTANG TANGAN
PENCURI
Tangan pencuri selalu pendek; itulah sebabnya ia tak pernah berfikir panjang untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia tau persis bagaimana menerapkan prinsip “ semua untuk semua “ untuk kepentingannya sendiri. Ia jeli melihat jalan pintas, seperti pedagang jeli melihat keuntungan. Jangan perlihatkan uangmu atau ia akan dating ke rumahmu saat kau tidur. Jangan beri ia kesempatan atau kau akan menjadi “klien-nya” yang baik. Kebanyakan tangan pencuri suka motto ini : SEKALI MENCURI TETAP MENCURI “. Itulah sebabnya satu “ mencuri” akan berkembang menjadi rantai “mencuri”, sebagaimana satu “bohonh” akan menjelma menjadi rantai “bohong”. Bagi tangan pencuri, mencuri itu nikmat, dan itulah alas an utama mengapa ia bertahan menjadi tangan pencuri. Dalam The Art of The Stealing, disebutkan seribu teknik emncuri. Tangan pencuri sejati menguasai betul seribu teknik ini, dan itulah sebabnya telah 50 tahun lebih ia mencuri, baru belakangan ia ketahuan. Dan ini tak membuatnya jera, malah semakin tertantang untuk mengembangkan teknik paling canggih sehingga betapapun terlindunginya hartamu akan bisa ia curi, apalagi kalu Cuma DILINDUNGI DENGAN UNDANG – UNDANG DAN PERATURAN PEMERINTAH. Hanya satu yang tak bisa dilakukan tangan pencuri,: Mencuri ‘ Tangan lain yang baik’ untuk mengganti ‘dirinya yang buruk sebagaimana ‘ORANG SAKIT’ tak bisa mencuri ‘ORANG SEHAT’ untuk menjadi dirinya.
TENTANG TANGAN
GURU
Tangan guru seribu jumlahnya. Semua membentang ke balik cakrawala. Semua menunjuk ke pintu surga. Tangan guru tak lahir dari kecerdasan. Ia lahir dari kebijaksanaan. Tangan guru tak lahir dari perut yang lapar. Ia lahir dari dahaga cinta kehidupan. Ia tak menanam di hatimu selain benih kebajikan. Jangan beri ia palu besi, sebab kelembutannya lebih perkasa untuk menghancurkan batu karang di hatimu. Ia benci memberikanmu hukuman, sebab tahu engkau lebih membutuhkan kasih sayang. Ia tak memberimu nasi, tapi gemar membimbingmu ke sawah, tempat padi untuk nasimu ditumbuhkan. Ia benci memberimu pikiran, tapi gemar menuntunmu ke kedalaman, tempat pikiran – pikiran ditumbuhkan. Jika ia memberimu buku, terimalah sebagi cangkul untuk lading pengetahuanmu. Jika ia memberimu pena, terimalah sebagai bekal pengembaraanmu.
Tapi jika ia memberimu lambaian perpisahan di jelang ajalnya, jangan menangis, SEBAB GURU TAK PERNAH MATI. Ia pergi dan tak bisa kau jangkau, TAPI IA HIDUP DI DALAM HATIMU..
From : Aly D. Musyrifa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar